Jurnalis
Seharusnya Datang di Awal Waktu
Oleh:
Chusni Syukriani Pasaribu
“Mau Kemana masih pagi udah
rapi,” tanyanya padaku yang memang sudah rapi ketika
itu.
“Biasalah, aku mau meliput
ke unimed” tanggapku,
“Yang rajinlah kau Yan, hari Minggu pun
pergi. Ini kan hari Libur, udah tiap hari kau pigi pagi pulang sore, hari libur
gini pun aktivitas itu masih kau lakukan, kau juga butuh istrahat, jangan
terlalu memporsir tenagamu, nanti kau sakit Loo,” tanggapnya lagi.
Aku hanya bisa tersenyum pada
sahabatku yang sangat mempedulikan kesehatanku. “Jangan khawatir kawan, ini
adalah tanggung jawabku, aku harus melakukan aktivitas ini. Aku pasti menjaga
kesehatanku kawan,“ aku lalu melangkahkan kakiku keluar dari pintu rumah
kontrakan. Ketika berjalan ke simpang untuk menanti kedatangan angkot, aku
teringat tatkala kami dilantik sebagai anggota lembaga pers mahasiswa, dalam
ikrar pelantikan aku telah berjanji untuk melaksanakan tanggungjawab di lembaga
pers ini, yaitu sebagai reporter. Pada saat itu aku juga ditanya tentang
kesediaanku untuk meluangkan waktu guna mengabdi dan menjalankan tugas sebagai
jurnalis kampus, dan aku menjawab dengan kata setuju.
Angkot yang hendak kutumpangi
pun datang. Aku langsung menghambatdan menaikinya. Di angkot, aku melihat ternyata
jam sudah menunjukkan pukul 08.30, acara yang akan kami liput akan dimulai pada
pukul 09.00. aku khawatir nantinya tidak sampai sebelum acara dimulai, aku lalu
mengirim pesan singkatku kepada temanku yang tadinya kami sudah berjanji untuk
meliput bareng. Aku menanyakan keberadaannya saat ini. Beberapa menit
aku menunggu balasan darinya, ternyata nihil. Aku lalu mengirim pesan singkatku
sekali lagi, “Anti, kau uda dimana? Reporter itu gak boleh datang terlambat
lo..,” aku lalu mengirimnya, kupastikan sms itu terkirim. Beberapa menit
kemudian, aku kembali melihat telepon genggamku, ternyata hasilnya masih nihil.
Kulihat jalan yang sudah mendekati lokasi tempat kami meliput. aku khawatir
kalau Anti nantinya tidak jadi datang, aku belum terbiasa untuk meliput
sendirian, apalagi meliput di Universitas yang bukan kampusku sendiri. Aku pun
memutuskan untuk meneleponnya,
“treet... treet... treet... Halo,
Assalamu’alaikum Anti, Kau uda dimana? Kita jadi meliputkan?” tanyaku untuk
memastikan.
“Jadi Yan, aku masih dirumah
Yan, pulsaku gag ada mau balas smsmu, kau uda dimana?” tanya Anti,
“Aku uda mau sampek unimed
ni, kau cepatlah gerak kemari,”
“Iya Yan, bentar lagi aku
sampek, kau langsung aja ke tempat acara yah Yan, kita ketemu disana, kau
jangan masuk dulu, kita masuk sama-sama ya,”
“Okelah Ti, kau jangan
lama-lama ya, Assalamu’alaikuum,” tutupku dengan rasa lega.
Sesampainya di gerbang unimed,
aku masih akan mencari auditorium unimed, lokasi diadakan nya acara seminar
itu, kutanya kepastian keberadaan auditorium unimed kepada kakak-kakak yang
duduk di sekitar taman unimed. Ternyata jauh juga dari gerbang. Setelah
mengetahui tempat pastinya, aku pun mulai berjalan kaki dengan yakin pasti akan
segera sampai. Tiba-tiba ada yang menyapaku dan bertanya,
“Kakak mau ke Auditorium ya?”
“Iya kak, Saya mau kesana,”
jawabku.
“Mari saya boncengkan,
tempatnya jauh dari sini, saya panitia acara,”
Aku pun dengan senang hati
menerima tawaran tak terduga itu, ku anggap ini adalah pertolongan Allah.
Setelah sampai di lokasi, tak
lupa aku mengucapkan terima kasih. Lalu akupun fokus untuk mencari keberadaan
Anti, acaranya sepertinya sudah dimulai, kulihat jamku, ternyata benar, jam
udah menunjukkan pukul 09.05 WIB. Ingin rasanya aku masuk sendiri. Tapi
mengingat aku telah berjanji untuk masuk sama-sama, akupun menunggu kedatangan
Anti.
10 menit kemudian...
“Hey Yan, udah lama? Yog kita
masuk,”
“Kau kok lama kali sih datang,
aku malu masuk, kita udah telat loo” ujarku
“Ayoglah, gak papa itu, Cuma
telat bentar aja kok,”
“Tapi reporter itu harus
datang lebih awal lo daripada peserta lainnya,”
“Oh iya?, yaudah maaf, lain
kali aku gag telat lagi pun, sekarang yoglah masuk,”
Setelah mengisi daftar
registrasi, kamipun dipersilahkan masuk, dan diantar ke posisi duduk yang
paling depan. Pada saat itu aku sedikit malu bila harus duduk di posisi paling
depan, duduk di sofa, bak tamu istimewa.
Setelah memperhatikan
acaranya, ternyata laporan panitia sudah selesai, dan acara hampir diserahkan
mc ke moderator untuk memulai pembahasan.
“Kan, gini ni kalau datang
telat, kita gak sempat mendengarkan laporan dari ketua panitia jadinya,”
“Emangnya harus ya kita
mendengarkan laporan ketua panitia?” tanyanya,
“Ya
iyalah, di laporan ketua panitia tu ada informasi mengenai jumlah peserta,
undang darimana saja, persiapan acara, dan lain-lain,”Ungkapku memberitahukan
kepada kawanku yang memang sebenarnya dia bukan termasuk subdivisi reporter di
lembaga pers kampus kami, tapi periklanan. Sebab itulah, ia masih kurang faham
mengenai tatacara peliputan. Namun, sebagai organisasi pers, kami sejatinya
adalah reporter. Masyarakat kampus menganggap kami sebagai wartawan kampus.
Oleh karena itulah, kami diwajibkan untuk meliput minimal setiap satu bulan
sekali disamping peliputan pembuatan majalah.
“Yaudah,
nanti kita tanyakan ke ketua panitianya setelah acara ya,” ungkapnya lagi.
“Ya
iya.. haruslah itu, tapi biasanya kalau liputan acara gini, kita tinggal
merekam dan mencatat laporan ketua panitia aja, mengambil poin penting dari
materi, mempelajari suasana kegiatannya, dan yang terakhir meminta tanggapan
dari pesertanya looh,” Jelasku lagi.
“Oh gitu
ya Yan, pantesan kau gak mau datang tellat ya,”
“Iya,,
makanya sekali lagi jangan terlambat ya, ingat, reporter itu datang lebih awal,
oke,”
“Okelah
siip Yan, sekali lagi aku pasti datang sebelum acara dimulai, makasih ya telah
memberitahukanku tentang ini,” ujar Anti.
Kami
berdua pun tersenyum dan sepakat tidak akan datang terlambat lagi, dan datang
lebih awal. Setelah acara selesai, kami pun segera mencari ketua panitia acara
dan peserta yang mau diwawancarai
Tidak ada komentar:
Posting Komentar