Senin, 14 Mei 2018


Jurnalis Seharusnya Datang di Awal Waktu
Oleh: Chusni Syukriani Pasaribu
“Mau Kemana masih pagi udah rapi,” tanyanya padaku yang memang sudah rapi ketika itu. 
Biasalah, aku mau meliput ke unimed” tanggapku,
 Yang rajinlah kau Yan, hari Minggu pun pergi. Ini kan hari Libur, udah tiap hari kau pigi pagi pulang sore, hari libur gini pun aktivitas itu masih kau lakukan, kau juga butuh istrahat, jangan terlalu memporsir tenagamu, nanti kau sakit Loo,” tanggapnya lagi.
Aku hanya bisa tersenyum pada sahabatku yang sangat mempedulikan kesehatanku. “Jangan khawatir kawan, ini adalah tanggung jawabku, aku harus melakukan aktivitas ini. Aku pasti menjaga kesehatanku kawan,“ aku lalu melangkahkan kakiku keluar dari pintu rumah kontrakan. Ketika berjalan ke simpang untuk menanti kedatangan angkot, aku teringat tatkala kami dilantik sebagai anggota lembaga pers mahasiswa, dalam ikrar pelantikan aku telah berjanji untuk melaksanakan tanggungjawab di lembaga pers ini, yaitu sebagai reporter. Pada saat itu aku juga ditanya tentang kesediaanku untuk meluangkan waktu guna mengabdi dan menjalankan tugas sebagai jurnalis kampus, dan aku menjawab dengan kata setuju.
Angkot yang hendak kutumpangi pun datang. Aku langsung menghambatdan menaikinya. Di angkot, aku melihat ternyata jam sudah menunjukkan pukul 08.30, acara yang akan kami liput akan dimulai pada pukul 09.00. aku khawatir nantinya tidak sampai sebelum acara dimulai, aku lalu mengirim pesan singkatku kepada temanku yang tadinya kami sudah berjanji untuk meliput bareng. Aku menanyakan keberadaannya saat ini. Beberapa menit aku menunggu balasan darinya, ternyata nihil. Aku lalu mengirim pesan singkatku sekali lagi, “Anti, kau uda dimana? Reporter itu gak boleh datang terlambat lo..,” aku lalu mengirimnya, kupastikan sms itu terkirim. Beberapa menit kemudian, aku kembali melihat telepon genggamku, ternyata hasilnya masih nihil. Kulihat jalan yang sudah mendekati lokasi tempat kami meliput. aku khawatir kalau Anti nantinya tidak jadi datang, aku belum terbiasa untuk meliput sendirian, apalagi meliput di Universitas yang bukan kampusku sendiri. Aku pun memutuskan untuk meneleponnya,
 “treet... treet... treet... Halo, Assalamu’alaikum Anti, Kau uda dimana? Kita jadi meliputkan?” tanyaku untuk memastikan.
“Jadi Yan, aku masih dirumah Yan, pulsaku gag ada mau balas smsmu, kau uda dimana?” tanya Anti,
“Aku uda mau sampek unimed ni, kau cepatlah gerak kemari,”
“Iya Yan, bentar lagi aku sampek, kau langsung aja ke tempat acara yah Yan, kita ketemu disana, kau jangan masuk dulu, kita masuk sama-sama ya,”
“Okelah Ti, kau jangan lama-lama ya, Assalamu’alaikuum,” tutupku dengan rasa lega.
Sesampainya di gerbang unimed, aku masih akan mencari auditorium unimed, lokasi diadakan nya acara seminar itu, kutanya kepastian keberadaan auditorium unimed kepada kakak-kakak yang duduk di sekitar taman unimed. Ternyata jauh juga dari gerbang. Setelah mengetahui tempat pastinya, aku pun mulai berjalan kaki dengan yakin pasti akan segera sampai. Tiba-tiba ada yang menyapaku dan bertanya,
“Kakak mau ke Auditorium ya?”
“Iya kak, Saya mau kesana,” jawabku.
“Mari saya boncengkan, tempatnya jauh dari sini, saya panitia acara,”
Aku pun dengan senang hati menerima tawaran tak terduga itu, ku anggap ini adalah pertolongan Allah.
Setelah sampai di lokasi, tak lupa aku mengucapkan terima kasih. Lalu akupun fokus untuk mencari keberadaan Anti, acaranya sepertinya sudah dimulai, kulihat jamku, ternyata benar, jam udah menunjukkan pukul 09.05 WIB. Ingin rasanya aku masuk sendiri. Tapi mengingat aku telah berjanji untuk masuk sama-sama, akupun menunggu kedatangan Anti.
10 menit kemudian...
“Hey Yan, udah lama? Yog kita masuk,”
“Kau kok lama kali sih datang, aku malu masuk, kita udah telat loo” ujarku
“Ayoglah, gak papa itu, Cuma telat bentar aja kok,”
“Tapi reporter itu harus datang lebih awal lo daripada peserta lainnya,”
“Oh iya?, yaudah maaf, lain kali aku gag telat lagi pun, sekarang yoglah masuk,”
Setelah mengisi daftar registrasi, kamipun dipersilahkan masuk, dan diantar ke posisi duduk yang paling depan. Pada saat itu aku sedikit malu bila harus duduk di posisi paling depan, duduk di sofa, bak tamu istimewa.
Setelah memperhatikan acaranya, ternyata laporan panitia sudah selesai, dan acara hampir diserahkan mc ke moderator untuk memulai pembahasan.
“Kan, gini ni kalau datang telat, kita gak sempat mendengarkan laporan dari ketua panitia jadinya,”
“Emangnya harus ya kita mendengarkan laporan ketua panitia?” tanyanya,
“Ya iyalah, di laporan ketua panitia tu ada informasi mengenai jumlah peserta, undang darimana saja, persiapan acara, dan lain-lain,”Ungkapku memberitahukan kepada kawanku yang memang sebenarnya dia bukan termasuk subdivisi reporter di lembaga pers kampus kami, tapi periklanan. Sebab itulah, ia masih kurang faham mengenai tatacara peliputan. Namun, sebagai organisasi pers, kami sejatinya adalah reporter. Masyarakat kampus menganggap kami sebagai wartawan kampus. Oleh karena itulah, kami diwajibkan untuk meliput minimal setiap satu bulan sekali disamping peliputan pembuatan majalah.
“Yaudah, nanti kita tanyakan ke ketua panitianya setelah acara ya,” ungkapnya lagi.
“Ya iya.. haruslah itu, tapi biasanya kalau liputan acara gini, kita tinggal merekam dan mencatat laporan ketua panitia aja, mengambil poin penting dari materi, mempelajari suasana kegiatannya, dan yang terakhir meminta tanggapan dari pesertanya looh,” Jelasku lagi.
“Oh gitu ya Yan, pantesan kau gak mau datang tellat ya,”
“Iya,, makanya sekali lagi jangan terlambat ya, ingat, reporter itu datang lebih awal, oke,”
“Okelah siip Yan, sekali lagi aku pasti datang sebelum acara dimulai, makasih ya telah memberitahukanku tentang ini,” ujar Anti.
Kami berdua pun tersenyum dan sepakat tidak akan datang terlambat lagi, dan datang lebih awal. Setelah acara selesai, kami pun segera mencari ketua panitia acara dan peserta yang mau diwawancarai